Terapi Humanistik Eksistensial
Terapi
Humanistik Eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan
diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan. Terapi-terapi
humanistic-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar
dan juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien di masa-masa
sekarang dan bukan masa lampau.
·
Person Centered Therapy
Terapi ini disebut juga Client
Centered Therapy (terapi berpusat pada diri pasien) atau terapi nondirektif.
Teknik ini digunakan pertama kali oleh Carl Roger pada tahun 1942 dan
berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong
mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Menurut Rogers (dalam Semiun,
2006), gangguan-gangguan psikologis umumnya terjadi orang-orang lain menghambat
individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Bila orang lain
bersifat selektif dalam menerima perasaan dan tingkah laku mereka di masa kanak-kanak,
maka mereka mungkin tidak mengaki bagian-bagian dari diri kita yang tidak
disenanginya. Untuk mendapat persetujuan dari orang-orang lain, kita
mungkin mengenakan kedok atau topeng.
Kita belajar, “untuk melihat dan
bukan untuk didengar” dan mungkin kita menjadi tuli bahkan terhadap suara-suara
yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Lambat laun kita mungkin
mengembangkan konsep diri yang menyimpang, yakni mempertahankan pandangan bahwa
orang-orang lain adalah bagian dari diri kita dan akibatnya kita mungkin
menjadi orang yang tidak mampu menyesuaikan diri, tidak bahagia, dan bingung
mengenai diri kita siapa dan apa. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik
adalah orang yang memilih dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan
pribadinya.
Pendekatan humanistic Rogers pada
terapi ini, membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang
sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam
hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan tujuan dan nilai-nilai yang
dimilikinya kepada pasien. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang
diungkapkan pasien untuk membuatnya berhubungan dengan perasaan-perasaannya
yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak
diterima oleh masyarakat.
Terapis memantulkan kembali atau
menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberi
penilaian. Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan
eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara
ketat. Metode-metode yang berasal dari terapi gestalt dan analisis
transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis
bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial humanisti
Sumber:
Corey, G., (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Corey, G., (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar