Jumat, 29 April 2016

teknik terapi Humanistik




Terapi Humanistik Eksistensial

Terapi Humanistik Eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan. Terapi-terapi humanistic-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar dan juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien di masa-masa sekarang dan bukan masa lampau.

·         Person Centered Therapy
Terapi ini disebut juga Client Centered Therapy (terapi berpusat pada diri pasien) atau terapi nondirektif. Teknik ini digunakan pertama kali oleh Carl Roger pada tahun 1942 dan berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Menurut Rogers (dalam Semiun, 2006), gangguan-gangguan psikologis umumnya terjadi orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Bila orang lain bersifat selektif dalam menerima perasaan dan tingkah laku mereka di masa kanak-kanak, maka mereka mungkin tidak mengaki bagian-bagian dari diri kita yang tidak disenanginya.  Untuk mendapat persetujuan dari orang-orang lain, kita mungkin mengenakan kedok atau topeng.
Kita belajar, “untuk melihat dan bukan untuk didengar” dan mungkin kita menjadi tuli bahkan terhadap suara-suara yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Lambat laun kita mungkin mengembangkan konsep diri yang menyimpang, yakni mempertahankan pandangan bahwa orang-orang lain adalah bagian dari diri kita dan akibatnya kita mungkin menjadi orang yang tidak mampu menyesuaikan diri, tidak bahagia, dan bingung mengenai diri kita siapa dan apa.  Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memilih dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan pribadinya.
Pendekatan humanistic Rogers pada terapi ini, membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan tujuan dan nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membuatnya berhubungan dengan perasaan-perasaannya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat.
Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian. Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Metode-metode yang berasal dari terapi gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial humanisti

Sumber:
Corey, G., (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar