seperti yang kita tau, demam cerita cinta antara makhluk fantasi (werewolf and vampire) dan manusia, lagi mewabah, contohnya aja twilight saga.
shiver ini juga cerita yang mirip2 ama twilight, tapi bedanya cerita shiver ini lebih mudah di cerna, dan tokoh utama cewek gak blangsakan kayak bella di twilight.
bagi yang udah pernah baca shiver, tentu udah baca endingnya kan ?
jujur aja, gue kurang puas ama endingnya shiver, sangat ngambang dan bikin gue gigit bantal tiap malem saking geremnya. jadi disini gue mencoba membuat bab tambahan buat shiver, dari sudut pandang tokoh utama ceweknya. (grace) well, itung2 nglatih kemampuan nulis, mungkin blogger sekalian bisa juga menilai dan mengoreksi (bagi yang udah baca, yang belom baca..gih ! beli bukunya) bagian mana yang rasanya kurang berkesan.
here goes :
Bab enam puluh delapan Grace
12
Rencana pergi bersama rachel saat natal hanyalah alasan untuk dapat membuatku bisa melupakannya, membuatku lupa dengan rasa sakit dan air mata serta lolongan-lolongan pilu yang membuatku ingin berlari keluar pada malam hari dan membiarkan hutan malam menjeratku. Tapi tetap saja, ada sensasi nyeri di dalam tubuhku yang berteriak : kau tak boleh pergi. Jangan. Aku berharap ada yang menghentikanku saat ini, menghentikanku menjadi konyol dan menghentikanku dari rasa menyesal. Aku memberanikan diri melirik hutan dibelakangku. Hanya melirik. Tetap berharap imaji di pikiranku yang aku anggap konyol terjadi saat ini. Mata serigala kuning menyala menatap balik kepadaku. Tapi itu hanya imaji usang yang kekanak-kanakan, aku harus maju dari keterpurukan ini.
Setelah menutup sangkar burung aku pun bergegas masuk ke dalam rumah, bersiap-siap mengepak barang untuk liburan natal kali ini. Hanya aku dan rachel. Tanpa olivia. Dia telah bergabung bersama kawanan serigala. Lagi-lagi pikiran tentang kawanan serigala masuk ke dalam pikiranku, jika kuteruskan aku bisa berakhir memikirkan dia. Sambil menghela nafas berat aku memejamkan mata, memberanikan diri menyebut namanya dalam hati. Sekeras apapun aku berusaha untuk lari dari kenyataan bahwa aku ingin melupakannya, semakin kuat pula aku kembali ke dalam mimpi yang dipenuhi olehnya. Sam. Tiba-tiba ada suara langkah gelisah mengejutkanku, membangunkanku dari mimpi akan sam, suaranya berasal dari hutan. Aku langsung waspada dan mundur satu langkah, siapa itu ? apakah salah satu dari kawanan serigala ? olivia ? atau.....
Sosok dari belakang hutan yang kucurigai itu, sepertinya sadar bahwa aku telah mencurigainya. Dengan perlahan sosok hitam itu keluar dari belakang pohon, bersama dengan uap dingin yang keluar dari mulutnya. Aku membeku. Sosok yang familier, amat sangat familier. Rambut hitam acak-acakan yang basah, kulit kecoklatan yang ditutupi jaket hitam beludru. Dan yang paling membuatku beku tak berdaya, sorot pilu yang diciptakan oleh 2 buah mata kuning cemerlang. Menatapku dengan ekspresi rindu bercampur perih khas sam. Sam, itu samku, aku tak mungkin salah, bau khas hutan dan tanah yang amat sangat kusukai, cara berdiri canggung. Itu sam, samku sayang.
Hanya itu yang sekarang memenuhi pikiranku. Sam memenuhi pikiranku. Aku masih terus membeku sampai dia berada tepat di hadapanku. Sama membekunya seperti aku. Sama sekali tak bergerak. Aku berkedip, air mata menetes tanpa peringatan ke pipiku, membuat ekspresi sam yan tadi tegang berubah menjadi pilu dan sakit karena rasa menyesal. Dia menggerak-gerakan jemarinya di bawah jaket hitamnya, tapi aku tak peduli, yang kupedulikan hanyalah mata kuning bersinar di hadapanku. Angin dingin bertiup kencang menembus kami, sangat dingin. Tapi sam tetap ada di depanku, memandangku, lalu ia pun berbisik lembut.
“Grace, katakan sesuatu.”
Suaranya sangat nyata, sangat sam. aku pun membalas bisikannya
“Sam.”
Sam langsung mendekapku erat-erat, sangat erat sampai rasanya menyakitkan. aku menangis di pelukannya, mencengkram erat punggungnya yang lebar, aku menangis sangat deras sampai rasanya ingin berteriak. Sam bodoh ! sam bodoh ! kenapa baru muncul sekarang !? kenapa kau biarkan aku menderita karena rasa rindu ini ? kenapa !?.
sam memelukku makin erat, ada sensasi hangat di pundak dan leherku. Sam menangis. Tangis kerinduan yang tertahan selama berbulan-bulan. Dengan air mata yang masih tersisa di pipi masing-masing, aku melonggarkan pelukannya, kami saling bertatapan. Tertawa konyol, melihat rupa wajah masing-masing. Tanpa aba-aba, tanpa ada penghalang lagi, sam menekankan bibirnya ke bibirku. Hangat. Di bawah langit mendung dan udara dingin, kami berciuman. Hanya ada aku dan sam.