Kamis, 30 April 2015

KESEHATAN MENTAL DAN RELIGIUSITAS



 perubahan zaman saat ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Salah satu pandangan mengenai interaksi keyakinan beragama dengan mental health adalah dari Viktor Frankl, pendiri logoterapi. Victor Frankl dalam bukunya “The Doctor and the Soul”[1], menunjukkan tiga bidang kegitan secra potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang memperoleh makna dalam hidupnya, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (experiental values), dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values). Dengan merealisasikan nilai-nilai tersebut, diharapkan seseorang mampu menemukan dan mengembangkan makna hidupnya, sehingga mengalami hidup secara bermakna (the meaningful life) yang merupkan pintu menuju kebahagiaan (happiness).
Agama dapat digolongkan pada nilai-nilai penghayatan, salah satu nilai yang dapat menjadi sumber makna hidup. Walaupun menurut victor Frankl, antara keyakinan beragama dengan kesehatan mental tidak merupakan hubungan kausalitas langsung.

Walaupun tidak ada hubungan kausalitas langsung, tetapi berdasarkan penelitian para ahli psikologi dan  kesehatan, ternyata bahwa komitmen keagamaan, pada kasus-kasus gangguan mental, mampu mencegah dan melindungi seseorang dari berbagai macam penyait mental.
The experiental values adalah religious commitment, yaitu hidup secara Islami. Maka untuk hidup secara islami bibutuhkan konsep dan prinsif-prinsif Islam untuk kesehatan jiwa. Pertama, melalui pendekatan training bercorak psiko-edukasi, yaitu sadar akan keunggulan dan kelemahan, sehingga terus-menerus melakukan evaluasi diri untuk mampu mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya, yakni mampu mengembangkan fitrahnya. Kedua, berusaha untuk selalu mampu menyesuaikan dirinya, berusaha untuk menentukan arti dan tujuan hidup (hanya semata-mata untuk beribadah dan memperoleh ridho-Nya). Ketiga, pelatihan disiplin (meningkatkan kualitas pribadi) yang berorientasi Spiritual Religius, misalnya dengan dzikir, puasa, salat dan ritual-ritual keagamaan lainnya.

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.
Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi sehingga akan dapat memunculkan perasaan positif pada kesehatan mental seseorang.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.




[1] Mukhtar GZ., Materi Kuliah Psikologi Agama II. Jurusan PA, Fakultas Ushuluddin, UIN SGD.
[1] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan islam menuju Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, 1997, cet ke-2, hlm.131.

Casmini dkk, 2006, Kesehatan Mental, UIN SUKA
Jalaluddin, 2007, Psikologi Agama, Raja Grafindo Persada
Wanita muslimah, diakses tanggal 12 April 2008, Agama Kunci Kesehatan, http://www.archiv.com,
Moeljono Soedirjo dan Latipun, 2005, Kesehatan Mental Konsep dan Terapi, UMM Press
Kartini Kartono, 2000, Hygiene Mental, Bandar Maju
Dadang Hawari, 1996, Al-Quran i\Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bakti Prima Yasa
Zakiah Daradjat, 1995, Kesehatan Mental, Gunung Agung





Atika Purnama Dewi
11513481
2PA10
Tugas softskill: kesehatan mental 2


               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar